Senja datang kembali hari ini, namun kali ini ia datang membawa kabar buruk. Kabar buruk bersama sang petir yang terus menyapa langit. Langit hari ini bewarna gelap, tidak seindah hari sebelumnya. Banyak kabar buruk yang terus silih berganti, banyak rasa sakit yang terus mengalir. Terkadang aku berpikir, apakah tidak ada obat untuk mengalihkan semua rasa sakit ini? Atau tidak ada kah seseorang yang ingin mengerti tentang rasa sakit ini? Ingin sekali rasanya menangis.
Disaat ingin menangis aku teringat sebuah kalimat dari sang nenek yang sudah tiada, kira-kira seperti ini kalimatnya. "Saat petir menyambar hatimu, jangan menangis. Tersenyumlah, karena sang petir pernah dengan senang hati menyelinap masuk ke dalam hati mu."
Aku selalu mengingat sebuah kalimat itu, kalimat keramat yang hingga sekarang menjadi penyemangat ku untuk menjalani hidup ini. Hidup yang amat sangat sesak, bagai terhimpit dua dinding yang saling berdekatan. Tapi tersenyumlah karena semua hal itu pernah terjadi. Jadikanlah hal itu sebagai penyemangat diri sendiri.
Disaat ingin menangis aku teringat sebuah kalimat dari sang nenek yang sudah tiada, kira-kira seperti ini kalimatnya. "Saat petir menyambar hatimu, jangan menangis. Tersenyumlah, karena sang petir pernah dengan senang hati menyelinap masuk ke dalam hati mu."
Aku selalu mengingat sebuah kalimat itu, kalimat keramat yang hingga sekarang menjadi penyemangat ku untuk menjalani hidup ini. Hidup yang amat sangat sesak, bagai terhimpit dua dinding yang saling berdekatan. Tapi tersenyumlah karena semua hal itu pernah terjadi. Jadikanlah hal itu sebagai penyemangat diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar