Langsung ke konten utama

Petang itu


Sore itu, langit mendung tak beraturan serta angin kencang melampaui batas. Dia datang ke rumah ku, menyapa lalu bertanya,

"Ayah ada di rumah?" sembari menengok ke dalam rumah. Aku tersenyum lalu menggeleng. Lucu gelagatnya, seperti ingin mengajak ayah ku berkencan, bukan diriku.

"Ada apa?" tanyaku sembari membuka lebar pintu rumah.

"Mau ngobrol-ngobrol aja, boleh?" dia tersenyum, sangat manis. Aku suka.

"Boleh atuh, sini masuk. Motornya udah di parkir di dalem kan?"

"Udah dong," muncul lagi senyumnya.

Aku mengiringinya untuk duduk di atas karpet, bukan sofa. Lebih suka ngadeprok ceunah. Tidak lupa membawa bingkisan yang sejak tadi digenggamnya, aku hanya tersenyum.

Tingkahnya selalu seperti ini. Menepuk-nepuk bagian belakang celananya sebelum duduk di atas karpet.

"Mau kopi?" tawarku yang belum duduk.

"Boleh, gulanya dikit aja ya hehe." seperti biasa, tidak suka manis katanya. Aku mengangguk dan berlalu ke dapur.

Singkat cerita hingga aku menyajikan segelas kopi dan segelas jeruk peras kesukaanku. Dia tersenyum kembali, sangat manis.

"Makasih ya neng, maaf nih kalo ngerepotin." Dia tertawa, bagian kesukaanku.

"Iya sama-sama," seperti itulah. Singkat dan padat, memang diriku sekali.

"Kali ini aku mau bahas tentang kendaraan umum, kamu mau kan?" Aku mengangguk lalu dia tersenyum lagi. Aku heran, apa bibirnya tidak lelah?

"Kebetulan aku mau bahas kejadian di KRL."

"Nah pas atuh neng, ini aku minum dulu ya kopinya? Sayang kan udah dibuatin masa gak aku minum." Aku terkekeh sembari mengangguk. "Kamu dulu yang cerita, gimana? Nanti baru aku sambungin."

"Oh boleh A, jadi gini, kamu tau kan kejadian aneh yang sering terjadi di KRL? Temen aku baru aja ngerasain hal kayak gitu, aku juga pernah sih sekali kayak—"

"Kejadian apa? Kamu diapain?" potongnya dengan cepat, aku merengut. Tak suka jika disela ketika berbicara. "Eh iya maaf, sok lanjutin."

"Jadi temen aku kayak mau dicopet gitu deh, aku pernah kayak diincer gitu sama orang. Tapi ya untungnya gapapa sampe sekarang. Jadi bingung aku sekarang tuh, naik transportasi umum ada aja orang gak beres, naik ojek online ada aja driver yang nggak bener. Kalo naik kendaraan pribadi bikin macet. Meuni lalieur aku mah." Selesai berbicara aku bersandar di sofa. Dia tertawa, renyah.

"Yaudah, lain kali kalo mau kemana-mana sama aku aja ya?" tawarnya masih dengan tawa. Aku menatapnya sinis. Tawanya tambah kencang.

"Kamu mau bahas apa jadinya?"

"Enggak jadi, aku mau denger kamu cerita aja. Aku suka soalnya, hehehe." Wah, pipiku memerah, pasti.

Komentar